Bang BenZ Poenya Blog

Catatan hidup antara Semarang - Jogja (Ngomongin tentang komputer, kuliner, personal interest, & apa aja yang tiba-tiba nongol di pikiran)

Blogger Template by Blogcrowds

Selamat Datang ! Senang berkenalan dengan Anda . Nantikan tulisan-tulisan terbaru dari Saya berikutnya.

Ini Kopi, Indonesia Punya.

Senin, 18 Januari 2010
Kopi, minuman ini pasti sudah tidak asing lagi bagi Anda yang menggemarinya, tukang begadang, dan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir (seperti saya). Memang minuman yang satu ini mampu membuat kita terjaga semalaman suntuk karena kafein yang terkandung di dalamnya. Karena efek inilah konon kopi pernah dilarang oleh para imam konservatif dan orthodoks di majelis keagamaan di Makkah dan Mesir. Namun karena popularitasnya akhirnya larangan ini dicabut.

Kopi dalam bentuk tanaman atau biji pada awalnya tidak diizinkan keluar dari kawasan Arab namun karena harganya yang tinggi orang Belanda nekat menyelundupkannya keluar. Dan orang Belanda ini pulalah yang pertama kali membawa kopi untuk ditanam di pulau Jawa, Indonesia.

Indonesia sebagai negara penghasil kopi nomor empat terbesar di dunia memiliki dua jenis tanaman kopi yaitu kopi robusta (coffea robusta) dan kopi arabica (coffea arabica). Arabika merupakan kopi tradisional yang dianggap paling enak rasanya, sedangkan Robusta diposisikan sebagai barang substitusi dari Arabika karena harganya lebih murah dan dapat tumbuh pada lingkungan yang tidak dapat ditumbuhi oleh Arabika.

Robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi daripada Arabika, selain itu rasanya yang pahit dan asam membuatnya tidak dapat dinikmati sendiri sehingga lebih banyak digunakan untuk campuran. Robusta yang berkualitas tinggi biasa digunakan dalam beberapa campuran espresso.
Salah satu sajian kopi robusta di sebuah coffee shop di Semarang.

KOPI TERMAHAL ASLI INDONESIA

Di Indonesia ada suatu jenis Kopi Robusta dan Arabika yang harganya sangat mahal mencapai $300 (hampir Rp 3.000.000) per pound dalam bentuk serbuk dan $50 (lebih dari Rp 460.000 dengan kurs saat ini) per cangkir dalam bentuk minuman. Luar biasa...!!! Harganya yang selangit ini membuatnya dinobatkan sebagai kopi termahal oleh majalah Forbes. Jenis kopi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kopi Luwak.

Kopi ini berasal dari biji kopi Robusta atau Arabika yang dimakan oleh luwak, yang konon mempunyai kemampuan alami untuk mengenali biji kopi yang sudah matang. Kemudian biji kopi yang tidak tercerna oleh sistem pencernaan Luwak, ikut dibuang bersama kotoran Luwak. Biji kopi yang telah mengalami proses fermentasi di dalam saluran pencernaan Luwak itulah yang kemudian diolah menjadi kopi Luwak. Memang menjijikan, namun mengingat harganya yang selangit dan rasanya yang unik -rasanya kaya, berat dengan citarasa karamel atau coklat- saya yakin rasa jijik Anda akan lenyap.

MASIH ADA LAGI YANG LAIN
Selain Kopi Luwak, Indonesia masih memiliki beberapa jenis kopi lagi yang khas dan beberapa diantaranya juga mendapatkan predikat sebagai "yang ter-". Kopi-kopi tersebut rata-rata merupakan varietas dari Kopi Arabika. Yang pertama adalah Kopi Jawa (Java coffee), Jawa adalah nama yang diberikan kepada varietas kopi Arabika berdasarkan nama dermaga tempat kopi tersebut diekspor, apalagi kalau bukan pulau Jawa. Dan Jawa merupakan salah satu varietas tertua selain Mocha. Bahkan dari Kopi Jawa inilah saya berasumsi bahwa nama dan logo dari platform sistem operasi besutan Sun Microsystem, "Java", berasal.

Berikutnya dari pulau Sumatra ada Kopi Gayo yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Gayo sendiri merupakan nama suku asli Aceh. Kopi Gayo ditanam secara tumpangsari dengan tanaman Lamtoro yang akarnya baik untuk kesuburan tanah dan mencegah erosi sedangkan daunnya sangat cocok sebagai peneduh tanaman kopi. Perlu diketahui juga Kopi Gayo ini juga mendapat predikat "ter-" sebagai kopi organik terbaik di dunia, tak heran banyak daerah lain yang mencomot nama Kopi Gayo untuk merek dagang kopi asal daerahnya.

Dan terakhir dari daerah Sulawesi ada Kopi Toraja Kalosi. Nama ini diambil dari perpaduan kata Toraja yang merupakan dataran tinggi tempat tumbuhnya kopi ini dan Kalosi sebuah kota kecil di Sulawesi tempat pengumpulan kopi dari daerah di sekitarnya. Keunikan dari kopi ini adalah memiliki bijinya yang berwarna coklat tua dengan bentuk yang tidak teratur karena proses prooduksinya. Bentuk biji yang tidak teratur ini justru menambah kaya rasanya, selain itu kopi ini memiliki tingkat keasaman yang seimbang sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra.

Luar biasa bukan negara kita Indonesia ini. Selain rendang saya rasa kopi juga patut mendapat perhatian salah satu kekayaan kuliner Indonesia agar tidak ada negara lain yang mengklaim kopi khas Indonesia sebagai miliknya.



Kapan Tobat???

Selasa, 12 Januari 2010
Beberapa minggu lalu saat sedang bermalam di rumah seorang teman. Teman saya menceritakan sebuah kisah tentang seorang sahabat di kampung halamannya. Cerita ini kembali saya tuturkan bukan untuk menyebarkan keburukan sahabat teman saya tersebut, namun untuk dipetik pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Sebut saja sahabat teman saya tersebut dengan nama Bejo. Alkisah si Bejo ini selepas SMA dikuliahkan oleh ayahnya ke luar kota di Solo. Selama kuliah di Solo, si Bejo ini ternyata lebih banyak mabuk-mabukan daripada kuliah. Perilaku tercela si Bejo ini terendus oleh sang ayah di kampung halaman yang notabene adalah sang penyandang dana. Akibatnya ayah dan anak ini sempat tidak saling berbicara satu sama lain untuk beberapa waktu.

Seiring dengan berlalunya waktu, konon si Bejo insyaf. Dan hati sang ayah pun mulai melunak dan beliau ingin sang anak memperoleh masa depannya kembali. Kemudian sang ayah kembali membiayai kuliah sang anak, namun kali ini sang anak dipindahkan ke kota lain, Semarang. Mungkin supaya tehindar dari pengaruh buruk teman-temannya di Solo. Setelah dipindahkan kuliah ke Semarang ternyata kelakuan tercela si Bejo kambuh lagi. Dengan trik yang lihai si Bejo berhasil menyembunyikan kelakuan tercelanya tersebut dari sang ayah. Hingga pada suatu hari, seperti biasanya karena sudah kehabisan uang saku si Bejo menghubungi ayahnya di kampung halaman untuk minta kiriman uang saku. Begitu dihubungi oleh si Bejo sang ayah pun langsung menuju ke ATM terdekat menggunakan becak. Di tengah perjalanan sang ayah melihat peristiwa kecelakaan terjadi di depan mata kepalanya sendiri yang membuatnya menerima kejutan yang teramat sangat. Sang ayah yang mempunyai masalah dengan jantungnya seketika itu terkena serangan jantung. Malang bagi sang ayah, nyawanya tidak terselamatkan.

Tanpa memberitahu kejadian yang sebenarnya kakak si Bejo, memintanya untuk pulang ke kampung halaman saat itu juga. Sempat terjadi debat antara si Bejo dengan sang kakak tentang mengapa ia mendadak disuruh pulang, namun dengan sedikit paksaan akhirnya si Bejo menyerah. Masih belum mengetahui apa alasan sebenarnya ia diminta pulang secara mendadak, ia pun berangkat ke kampung halaman dengan sang pacar. Sesampainya di kampung halaman ia tidak langsung menuju ke rumah namun malah mampir dulu di warung membeli rokok. Saat sedang membeli rokok, lewatlah seorang tetangga dekat rumahnya yang langsung saja menegurnya.

"Jo, kamu ini koq malah nggak langsung ke rumah tho? Eeee... malah nongkrong disini."

Si Bejo keheranan, "Memangnya ada apa tho, Mas?"

"Bapakmu tu meninggal, Jo. Masa kamu nggak tau?" Jawab si tetangga.

Mendengar kabar yang mengejutkan itu Si Bejo langsung tunggang langgang berlari menuju ke rumahnya. Dan betapa menyesalnya ia setelah mendengar kronologis meninggalnya sang ayah. Penyesalannya yang sangat mendalam mengantarkannya pada taubat yang setaubat-taubatnya, ia insaf yang sebenar-benarnya dari semua perbuatan tercela yang selama ini dilakukannya. Konon ia yang tadinya tidak niat kuliah, berubah menjadi mahasiswa yang rajin sepeninggal sang ayah dan berhasil menyelesaikan kuliahnya.

APA HIKMAHNYA?
Yang namanya perbuatan tercela, perbuatan dosa, dan semacamnya itu seperti penyakit. Pada awalnya selalu membungkus dirinya dengan kemasan-kemasan yang menarik dicampur dengan bumbu-bumbu kesenangan dan kenikmatan sesaat, agar menarik orang untuk terjerumus ke dalamnya. Sebut saja penyakit asam urat, penyakit ini justru dipicu karena kegemaran menyantap makanan yang enak-enak, misalnya saja seafood, daging, dll. Jadi tidak heran jika banyak orang dengan senang hati menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan dosa dan tercela.

Seperti juga halnya penyakit, mencegah adalah solusi terbaik. Namun apabila sudah terlanjur "sakit" bagaimana? Nah Ini dia inti hikmahnya. Dengan mengasumsikan bahwa tidak ada masalah finansial untuk memperoleh pengobatan, maka masalahnya hanya terletak pada keinginan anda untuk sembuh. Disini Anda bisa memilih untuk segera mengobati penyakit Anda selama penyakit tersebut masih ringan sehingga cukup dengan beristirahat yang cukup saja penyakit sudah sembuh atau menunggu sampai penyakit anda semakin kronis sehingga diperlukan tindakan pengobatan yang ekstrim seperti kemoterapi pada penyakit kanker.

Pada kasus si Bejo di atas saya sangat yakin bahwa Allah SWT pasti pernah memberikan peringatan-peringatan kecil untuk segera insyaf, yang kalau kita analogikan dengan proses penyembuhan penyakit adalah obat dengan dosis ringan. Namun karena penyakit terus membandel maka mau tidak mau dosis obat harus ditambah, dan apabila semakin membandel maka tidak ada jalan lain harus dilakukan tindakan pengobatan yang ekstrim yang berupa "pukulan keras" akibat meninggalnya sang ayah.

Pertanyaan untuk Anda dan untuk saya sendiri tentunya, masih adakah perbuatan dosa dan tercela yang masih kita lakukan sampai saat ini? Masih adakah dosa-dosa yang kita belum bertobat dan minta pengampunan kepada Allah SWT? Sudahkah kita mencermati peringatan-peringatan kecil yang Allah SWT berikan atas perbuatan-perbuatan dosa dan tercela kita? Saya rasa momentum tahun baru 2010 ini adalah waktu yang tepat untuk menambahkan "insyaf dan bertobat dari segala macam perbuatan dosa dan tercela" ke dalam daftar resolusi kita untuk tahun 2010 ini, mumpung Allah masih menganggap bahwa "penyakit" kita masih bisa disembuhkan dengan memberikan "obat dosis ringan". Atau anda hendak menunggu dahulu sampai penyakit anda semakin kronis? Pilihan ada di tangan Anda.

Si Bohai, Martabak Manis Thien Thien Lay

Kamis, 03 Desember 2009
Semarang sebagai kota yang ditinggali oleh berbagai macam etnis seperti Jawa, Tionghoa, Arab, India, dan lain-lain sudah tentu memiliki berbagai macam budaya dan tak pelak lagi juga memiliki beraneka ragam kuliner. Kali ini saya akan membahas salah satu kuliner yang konon pertama kali diperkenalkan oleh etnis Tionghoa. Ya, etnis yang satu ini memang terkenal dengan kuliner-kulinernya yang unik dengan cita rasa yang mudah diterima oleh sebagian besar lidah Bangsa Indonesia. Nah kuliner yang akan saya bahas adalah martabak manis. Selamat menikmati.

Penganan berbentuk bundar yang satu ini punya banyak nama, ada yang menyebutnya dengan kue bandung, kue terang bulan, martabak manis, dan masih banyak lagi nama alias lainnya. Saya sendiri dari kecil mengenalnya sebagai martabak manis. Hampir di setiap kota baik besar maupun kecil pasti ada yang menjual penganan yang satu ini dan diantara sekian banyak penjual martabak manis di suatu kota pasti ada satu yang terbaik, best of the best. Kalau di Bogor ada Martabak Air Mancur, di Bandung ada Martabak Jepang, nah kalau di Semarang sang Kota Atlas yang pantas menyandang gelar best of the best martabak manis menurut saya adalah Martabak Thien Thien Lay.

AWAL PERKENALAN
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2 menjelang kelas 3, sekitar tahun '94 - '95an. Salah seorang Paman dari pihak Ibu berkunjung ke Semarang, tujuannya apalagi kalau bukan disuruh Kakek untuk menjenguk putri-putri dan cucu-cucunya. Kali ini tidak seperti biasanya, paman saya ini sekalian mencari kawan lamanya di Pangkalpinang yang konon telah lama hijrah ke Semarang.

Diantar oleh saya dan ayah saya (sekarang sudah almarhum) kami bertiga mencari kawan lama Paman tersebut. Mulanya kami mencari di daerah Pudak Payung (daerah dekat perbatasan kota Semarang dengan kota Ungaran) setelah sampai di lokasi ternyata target sudah pindah rumah dan dari informasi yang didapat, kawan lama Paman saya tersebut berjualan martabak di jalan Gadjahmada. Tanpa membuang waktu kami pun langsung meluncur ke TKP.

Jalan Gadjahmada kala itu memang terkenal sebagai jalan dengan deretan pedagang kaki lima yang banyak di kota Semarang selain jalan Mataram. Uniknya lagi apabila di jalan Mataram sebagian besar pedagangnya berjualan loenpia, maka di jalan Gadjahmada ini mayoritas berjualan martabak manis.

Tidak seberapa jauh ke arah utara dari lapangan Pancasila (lebih dikenal dengan nama Simpang Lima) tampak di kiri kanan jalan sudah berjejer gerobak penjual martabak. Perlahan mobil yang kami tumpangi menyusuri jalan tersebut, sambil tengok kiri kanan Paman saya mencoba mengenali kalau-kalau salah satu pedagang martabak tersebut adalah kawan lama yang dicarinya. Namun sampai dengan jembatan Kampung Kali yang menjadi batas jajaran gerobak para pedagang martabak itu tetap saja sang kawan lama tidak ditemukan.

Mobil terus bergerak menyusuri jalan Gadjahmada hingga beberapa ratus meter dari jembatan Kampung Kali di depan gedung sebuah bank swasta kami melihat sebuah gerobak penjual martabak. Gerobak penjual martabak ini menyendiri jauh dari yang lain dan di papan namanya tertulis (kalau saya tidak salah ingat) "Kue Bangka, Thien Thien Lay" nama yang sangat Chinesse sekali. Mobil pun menepi mendekati gerobak tersebut dan ternyata tidak salah lagi itulah sang kawan lama yang dicari-cari.

Sekadar tambahan pengetahuan, sebagian besar pedagang martabak yang mampu membesarkan martabaknya menjadi best of the best adalah keturunan Cina dan uniknya lagi kebanyakan dari mereka berasal dari Bangka. Sebagai contoh adalah Bapak Kiki Sanjaya pemilik Martabak Air Mancur di Bogor juga adalah seorang puta Bangka keturunan Cina, sehingga tidak heran martabak manis selain disebut dengan kue Bandung dan terang bulan disebut juga dengan nama Kue Bangka.

MENGENAL THIEN THIEN LAY LEBIH DALAM
Thien Thien Lay, sampai sekarang pun saya belum tahu apa arti nama itu. Dan setiap kali hendak menanyakan arti kepada sang empunya selalu saja terlupa. Tapi apalah artinya sebuah nama, yang penting adalah karyanya. Meskipun begitu suatu saat nanti insyaallah akan saya tanyakan artinya, tentu saja kalau tidak terlupa. :)

Dinahkodai oleh Om Lim (itulah namanya menurut Ibu saya, sedangkan saya sendiri biasa memanggilnya dengan "Om" saja) sang kawan lama Paman saya tadi dengan dibantu oleh dua orang putranya, Thien Thien Lay telah bertahan hampir dua dekade (atau malah lebih ya). Konon Thien Thien Lay pada awalnya menggelar dagangannya di daerah tempat deretan pedagang kaki lima yang kami lewati sebelumnya, tapi karena didera persaingan dagang yang kurang sehat Om Lim memilih untuk hijrah ke depan gedung bank swasta tersebut.

Setelah pindah tempat pun nampaknya gangguan dalam berdagang masih saja setia menggelayuti Thien Thien Lay. Beberapa tahun menetap di depan gedung bank swasta tersebut, Thien Thien Lay dipaksa pindah oleh petugas kamtib. Thien Thien Lay pun berpindah-pindah tempat usaha hingga akhirnya sekarang menetap di sebelah utara Ruko Gadjahmada Building. Tepatnya di
Jl. Moch Suyudi.

Untuk mencapai Jl. Moch Suyudi sangat mudah, dari Simpang Lima menuju ke jalan Gadjahmada melewati perempatan Kampung Kali terus ke utara lagi. Terus jalan sampai Anda menemukan lampu merah perempatan yang agak aneh, bentuknya lebih mirip dua pertigaan dengan jarak yang berdekatan, pertigaan pertama dengan belokan ke timur & pertigaan kedua dengan belokan ke barat. Setelah melewati lampu merah di kiri jalan ada ruka Gadjahmada Building dan di kanan jalan sedikit di depan anda ada Hotel Telomoyo. Setelah Ruko Gadjahmada Building ada jalan ke kiri, berbeloklah di jalan tersebut kemudian maju beberapa meter dan tengoklah di kanan jalan. Nah disitulah Thien Thien Lay sekarang menggelar dagangannya.

Dari berjualan martabak ini Om Lim telah berhasil mengentaskan putra putrinya dari bangku kuliah dan memiliki sebuah kendaraan roda empat. Hasil yang diperolehnya itu merupakan sebuah bukti bahwa racikan resep martabak manisnya benar-benar dahsyat, sampai-sampai kedua putranya yang sarjana pun memutuskan untuk melanjutkan usaha sang ayah daripada bekerja sebagai pegawai kantoran. Sementara Si Om sekarang lebih banyak duduk-duduk mengawasi kedua putranya & beramah tamah dengan pelanggan setianya, sehingga setiap kali saya menyambangi warungnya sendirian ketika pesanan telah siap dibawa pulang dengan logat Bangka yang masih kental Om Lim selalu berujar "Titip salam ke Mama ya".

Salah seorang putra Om Lim sedang meracik topping martabak manis.

APA YANG ISTIMEWA DARI THIEN THIEN LAY?
Untuk beberapa waktu saya sekeluarga sempat rehat jajan martabak manis di Thien Thien Lay dan setelah rehat jajan beberapa waktu tersebut ternyata sekarang Om Lim sudah menambah jenis dagangannya. Dari yang dulunya cuma Martabak manis dengan varian biasa, keju, hitam manis, wijen, dan spesial serta berbagai macam pukis kini ada juga martabak manis kismis dengan berbagai variannya. Nah, bagi Anda yang suka ngemil kulit
pinggiran martabak manis yang renyah kriuk kriuk kini anda pun bisa membeli kulitnya saja.

Adonan martabak manis biasa dan martabak manis kismis sedang dipanggang.

Yang istimewa dari martabak manis Thien Thien Lay dibanding dengan martabak manis lain adalah kalau pada martabak manis lain setelah lewat sehari biasanya martabak akan menjadi kering & lebih keras dari pada saat baru saja diracik, beda dengan martabak manis racikan Thien Thien Lay. Martabak manis Thien Thien Lay masih terasa lembut & moist itupun sudah saya masukan ke dalam lemari es semalaman. Selain itu racikan toppingnya pun tidak pelit, campuran meses, margarin, kacang sangrai, susu kental manis, dan keju (apabila Anda membeli yang keju tentunya) yang di-mix saat martabak masih kebul kebul fresh for
m the pan nge-blend menghasilkan komposisi rasa yang ciamik. Dari segi kuantitas toppingnya pun lebih banyak dibanding martabak manis racikan pedagang lainnya namun tetap pas, tidak berlebihan. Body si martabak manis yang bohai binti bahenol ini memang diatas rata-rata, sehingga si martabak manis harus dikemas ke dalam dua buah kotak. Wajar saja jika dibanderol dengan harga premium, yang termurah, martabak manis polos harus ditebus seharga Rp 26.000 per loyang, pukis dihargai Rp 2.000 per biji dan bagi Anda yang menggemari kulit pinggiran martabak yang renyah bisa membawanya pulang dengan harga Rp 12.000 per bungkus.

Daftar harga yang belum berubah sejak 2008.

Nah kalau kebanyakan makan martabak manis biasanya akan terasa eneg, apalagi martabak manisnya punya topping yang tebal. Di Thien Thien Lay ini ada martabak m
anis yang tidak terlalu eneg untuk dimakan dalam porsi berlebih, kecuali Anda sudah makan hampir tiga loyang. Hehehe... Ini merupakan varian terbaru martabak manis Thien Thien Lay, namanya martabak kismis. Martabak ini juga tersedia dalam mode polos, biasa, keju, hitam manis keju, hitam manis biasa, istimewa & spesial. Cuma saya belum ngeh apa bedanya antara yang spesial & istimewa. Martabak kismis ini sebenarnya adalah martabak biasa yang ditaburi kismis sesaat setelah adonan dituang ke loyang, kemudian setelah matang diberi topping seperti biasa. Nah kismis inilah yang memberi efek mengurangi rasa eneg.

Ini dia si martabak kismis yang sedang diberi topping.

Bagaimana? Sudah ngiler kah Anda? Daripada berlama-lama ngiler dan penasaran mendingan buruan sambangi deh Thien Thien Lay yang menggelar dagangannya dari pukul 5 sore sampai habis (biasanya sekitar pukul 10 malam). Oh iya Thien Thien Lay tidak membuka cabang di tempat lain lho, jadi yang di Jl. Moch Suyudi ini adalah the only one. Selamat menikmati dan saya tidak tanggung bila suatu saat Anda kangen menikmatinya lagi, karena memang motto dari Thien Thien Lay adalah "Sekali dicoba tetap disuka".


Nikmat dan Cobaan

Kamis, 01 Oktober 2009
Sore ini (28/9/2009) di Facebook ada status yang menarik dari seorang teman. Kira-kira bunyinya "pertanyaan wajib dijawab selama libur lebaran : kapan nyanding (nikah)?", kalau yang jawab Ringgo Agus Rahman sih saya tau jawabnya "May. Maybe yes, maybe no. :) Di bawah status tersebut berjejer comment dari teman-teman yang lain diantaranya "Santai wae tangan belum lecet", "Wah podho, Mas", dsb. Sementara sang empunya status sendiri berkomentar "Nganti bosen aku njawab".

saya jadi teringat ceramah salah seorang pengkultum saat sholat tarawih pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita semua. Beliau menyampaikan materi kultum yang berhubungan dengan nikmat dan cobaan dari Allah. Disini saya mencoba untuk mengintepretasikan materi kultum tersebut.

Para pembaca sekalian berhubung ini ada sangkut pautnya dengan agama maka bila saya ada kesalahan mohon diluruskan, bila ada kekurangan mohon dilengkapi dan apabila ada yang berlebih mohon disisihkan supaya pas, bila saya punya salah dengan saudara-saudara sekalian mohon maaf lahir dan batin mumpung masih bulan Syawal. Hehehe...


NIKMAT YANG MENJADI BEBAN
Terus terang saya tidak tahu isi hati teman saya yang menerima pertanyaan yang paling sering diajukan saat lebaran tersebut, apakah menjadi tambahan beban dalam hidupnya atau justru "take it easy" aja seperti kata salah seorang teman KKN saya. Tapi saya tahu jelas umur teman saya tersebut dan effort-nya untuk mendapatkan sandingan. (^_^)V peace...!

Saya yakin Anda semua pernah mendengar statement "Allah tidak pernah memberikan cobaan yang tidak mungkin bisa ditanggung oleh umatnya". Itu artinya Allah sudah tahu dosis yang tepat untuk kita semua. Begitu juga dalam memberikan nikmat, Allah tahu dosis yang tepat untuk kita semua. Bisa saja kita telah melakukan berbagai macam ikhtiar dan tidak putus-putusnya berdoa kepada Allah agar kita mendapatkan nikmat yang diidam-idamkan. Tapi ternyata menurut Allah kesiapan kita untuk menerima nikmat-Nya masih kurang, maka Allah akan menunda untuk memberikan nikmat-Nya kepada kita sampai kita benar-benar siap untuk menerima. Karena apa? Karena nikmat tersebut bisa jadi akan menjadi beban cobaan yang tidak bisa kita tanggung dosisnya.

Contoh sederhana saja, ada sepasang suami istri yang sudah menikah bertahun-tahun secara materi sangat berkelimpahan. Seperti kita tahu anak adalah anugerah yang sangat dinanti-nanti bagi mereka yang telah menikah. Namun mereka tak kunjung diberi momongan, padahal segala macam upaya dan doa telah dilakukan. Selidik punya selidik Allah Maha Tahu, sekalipun mereka punya materi berlebih, keinginan punya anak juga sudah sangat kuat, segala macam usaha sudah diupayakan namun Allah menilai mereka belum siap untuk dapat mendidik supaya anaknya kelak menjadi anak yang sholeh & sholehah. Apa jadinya jika saat itu juga Allah memberinya anak, bisa jadi kelak anak itu akan menjadi anak yang bengal, suka membantah orang tua, suka berbuat kerusakan dan pada akhirnya akan menjadi anak yang menjerumuskan kedua orang tuanya ke neraka.

Untuk kasus teman saya tersebut, bisa jadi jauh di dalam lubuk hati dan pikirannya dia masih merasa terbebani apabila ada sandingan yang masuk ke dalam hidupnya sekalipun alam sadarnya sangat menginginkan untuk segera mendapat sandingan. Oleh karena itu Allah masih menahan wanita yang menjadi sandingannya sampai dia benar-benar siap dan tidak lagi merasa terbebani dengan kehadiran sandingan dalam hidupnya. Saya hanya bisa mendoakan saja supaya jangan menyerah dan teruslah berusaha.

COBAAN DALAM BENTUK KENIKMATAN
Dalam mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang saya dapatkan di bangku kuliah, untuk meningkatkan kinerja bisa digunakan dua cara yaitu dengan memberikan punishment apabila target tidak tercapai atau memberikan reward bila mencapai target. Sekalipun kedua cara itu sangat bertolak belakang namun kedua cara tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu supaya kinerja meningkat dan tujuan tercapai.

Kaitannya dengan cobaan dan nikmat Allah yaitu, untuk meningkatkan keimanan kita terkadang Allah bukannya memberi cobaan tapi justru kenikmatan. Sudah jamak kalau seseorang dalam kesusahan (cobaan) ia akan teringat kepada sang Penciptanya, tapi apabila seseorang diberi kenikmatan yang melimpah oleh Allah kebanyakan dari mereka justru terlena dan melupakan Tuhannya

Saya berikan contoh saja. Si A adalah seseorang yang berasal dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, meskipun begitu ia adalah seorang yang rajin, ulet, pantang menyerah dan rajin beribadah. Melihat ikhtiar dan doanya yang begitu kuat untuk mengubah taraf kehidupannya maka Allah memberikannya sebuah momentum untuk mengubah kehidupannya dimana Si A dapat mendirikan sebuah usaha. Berkat kerja kerasnya dan doanya yang terus menerus usaha tersebut semakin berkembang dan harta Si A semakin bertambah banyak. Sudah menjadi naluri dasar manusia apabila satu keinginannya tercapai maka ia akan menginginkan sesuatu yang lebih lagi. Dari sebelumnya yang hanya bekerja sampai menjelang Maghrib kini Si A bekerja hingga larut malam demi menambah kekayaannya. Sehingga ia yang sebelumnya selalu bangun disaat Subuh kini bangun agak siang dan meninggalkan sholat Subuhnya.

Sholat Subuh pun mulai ia tinggalkan dan lama kelamaan sholat-sholat yang lain pun ia tinggalkan juga. Akan tetapi semakin ia meninggalkan sholat justru taraf kehidupannya semakin meningkat hartanya semakin melimpah. Nah pembaca sekalian inilah bentuk cobaan dalam wujud kenikmatan, inilah momentum yang menentukan apakah Si A akan makin jaya atau malah menekan tombol hitungan mundur menuju kehancurannya.

Apabila ia menyadari bahwa semua harta itu berasal dari Allah dan ia kembali mengingat Allah, melaksanakan sholat-sholat yang selama ini telah ditinggalkannya maka Allah akan menjaga harta itu untuknya dan bahkan menambahkannya lagi. Dan itu berarti ia lulus dari cobaan. Namun apabila konsepsinya menjadi terbalik bahwa semakin Allah ditinggalkan dan dilupakan maka hartanya akan bertambah banyak bisa dipastikan ia tinggal menunggu saat kehancurannya saja, ia gagal lulus dari cobaan.

KESIMPULANNYA
Allah bekerja memberikan kita nikmat dan cobaan dengan cara-Nya yang serba Maha sehingga terkadang tidak dapat kita pikirkan dengan akal budi kita yang sangat terbatas ini. Suatu cobaan bisa berarti sebuah nikmat dan begitu juga sebaliknya, namun satu hal yang perlu kita pegang, baik itu berada dalam kondisi cobaan maupun kondisi nikmat tetaplah mengingat Allah.

Bagi Anda sekalian yang memiliki keinginan dan sudah bekerja keras serta rajin berdoa untuk memperoleh apa yang Anda inginkan namun tak kunjung tercapai, janganlah Anda menyalahkan Allah karena Allah itu Maha Memberi, Maha Penyayang dan Maha Tahu. Karena sesungguhnya Allah sedang menyelamatkan Anda dari cobaan yang tidak akan kuat Anda tanggung karena ketidaksiapan Anda untuk menerima nikmat-Nya. Tetaplah ingat kepada Allah serta siapkan diri Anda lebih baik lagi untuk menerima nikmat-Nya.

Filosofi Pemulung VS Tukang Sampah

Kamis, 04 Juni 2009
Mulanya hanya berawal dari sekedar mengomentari status di wall Facebook seorang teman (yang nampaknya adalah sebuah curhat terselubung tentang kesendiriannya), namun kegiatan saling mengomentari di Facebook tersebut akhirnya malah berubah menjadi sesi curhat yang membuahkan sebuah filosofi baru bagi saya.

Dari mulanya saya yang mengomentari tentang kesendiriannya malah berbalik jadi dia yang mengomentari & menanyai kesendirian saya, jawabannya saya ringan saja "Belum ada yang cocok di hati". Dan teman saya tersebut menanggapi kembali dengan mengatakan "Ah sok milih kamu, Ben. Hehe...". Saya jawab kembali dengan "Wah klo tu mah hukumnya wajib harus kudu, Nad. Pemulung aj klo mulung g smua sampah diambil, masa' kita cari pasangan asal2an aj g pke pilih2..." Dan nampaknya "filosofi pemulung VS tukang sampah" yang saya tandingkan dengan dengan urusan mencari pasangan tersebut cukup mengena.

THE INSPIRATION
"Filosofi pemulung VS tukang sampah" dalam kaitannya dengan mencari pasangan tersebut sebenarnya terinspirasi dari sebuah kejadian saat saya bersama rekan-rekan saya sedang menuju sebuah warung makan. Tidak sengaja kami melihat mantan pacar salah satu rekan saya (untuk kesekian kalinya) menggaet cowok baru lagi. Kesan yang saya tangkap saat melihat cowok tersebut adalah cewek mantan pacar rekan saya itu asal gaet cowok saja (yang ternyata pernyataan saya ini diamini oleh seluruh rekan-rekan saya). Spontan saya berkomentar,

"Mantanmu ki piye tho? Golek cowok koq sing koyo ngono, ora ono liyane po? Mbok golek cowok ki sing luwih apik timbang kowe. Jangan-jangan mung gresek** kuwi*."

Dan disambut dengan "Hahaha..." dari seluruh rekan-rekan saya, tawa yang menandakan bahwa mereka setuju dengan pernyataan saya. Karena teringat perisitiwa itulah maka tercipta "Filosofi pemulung VS tukang sampah". Nah, mari kita ikuti penjabaran lengkapnya.

MENGAPA PEMULUNG?
Mungkin terbersit pertanyaan di benakmu, kawan, "Mengapa yang dipilih sebagai tokoh protagonisnya adalah pemulung? Koq bukannya tukang sampah atau mungkin profesi lain yang terkait dengan pungut memungut sampah?"

Jawabannya sederhana saja, karena meskipun sama-sama berkecimpung dalam dunia pungut memungut sampah pemulung tidak akan asal-asalan mengambil sampah sekalipun di depan matanya teronggok berpuluh-puluh kilo sampah. Pemulung hanya memungut sampah yang bisa mendatangkan manfaat ekonomis bagi dirinya (misalnya, botol air mineral, botol oli) sedangkan yang tidak mendatangkan nilai ekonomis bagi dirinya tidak akan dipungutnya. Berbeda dengan tukang sampah, ia akan mengambil apa saja mulai dari botol air mineral sampai dengan tulang kepala ikan yang entah apa manfaatnya untuk dirinya. Pokoknya asal sampah sikat saja lah, hajar bleh.

Jadi filosofi yang bisa ditarik dari sang pemulung ini adalah sikapnya yang selektif serta tidak asal-asalan. Bahkan saat dihadapkan dengan pilihan hal-hal yang buruk pun dia berusaha mencari yang terbaik. Bukannya seperti tukang sampah yang asal sampah main sikat main embat saja. Koq malah jadi mirip kucing garong ya??? Hahaha...

KAITANNYA DENGAN MENCARI PASANGAN?
Nah inlah dia mungkin bagian menariknya. Hehehe... Orang-orang di sekitar kita dewasa ini justru mencari pasangan hanya lebih karena desakan waktu (misalnya ingin cepat menikah karena sudah umur, bahkan seorang teman pernah menulis di statusnya "30 hari mencari cinta" hanya gara-gara ingin punya pacar yang memberinya coklat saat valentine day, dll.) atau karena faktor lingkungan sekitar (misalnya malu dibilang nggak gaul kalau belum punya pasangan, dll), kedua hal tersebut bila dirangkum dalam kata-kata yang lebih simpel menjadi "nafsu, ambisi & obsesi". Banyak orang mengabaikan hatinya (jangan kau lupakan kawan, pada dasarnya ini adalah urusan hati) serta terlalu berpegangan pada nafsu, ambisi & obsesi tersebut sehingga mereka cenderung berfilosofi tukang sampah, asal ada cowok atau cewek jomblo sikat saja bahkan yang tidak jomblo pun sering disikat juga. Nah lo...

Kalau caranya begitu tidak heran kalau dewasa ini booming yang namanya hubungan seumur toge (baru beberapa hari sudah bubar) atau selingkuh (yang lagi ngetrend banget nih). Logikanya karena sebelumnya meraka memilih pasangan atas dasar nafsu, ambisi & obsesi, saat mereka merasa menemukan pasangan dengan hatinya maka beralihlah mereka ke hubungan yang baru & meninggalkan yang lama. Tapi namanya juga baru merasa ya jadinya bisa benar atau bisa juga terperosok lagi pada kesalahan yang lama, selain itu batas antara menggunakan hati dengan nafsu, obsesi & ambisi memang tipis sekali.

IN THE END...
Sekalipun dimulai dengan dasar nafsu, obsesi & ambisi di dunia ini tidak ada orang yang memulai suatu hubungan dengan niat sejak awal untuk memutuskan hubungan tersebut pada suatu saat nanti (mungkin saja ada, tetapi menurut saya hanya orang yang tidak waras & sakit saja), karena itu putuskanlah untuk memulai suatu hubungan dengan hatimu. Jangan lupa dengan filosofi pemulung di atas, carilah pasangan yang terbaik yang bisa kamu dapatkan, sekalipun dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terburuk tetap carilah yang terbaik. Kemudian pertimbangkanlah baik-baik dengan hatimu, mungkin akan sedikit makan waktu tapi kamu akan memperoleh sebuah hubungan yang jauh lebih baik daripada sebuah hubungan yang kamu pertimbangkan dengan nafsu, obsesi & ambisi.

Terjemahan:
* Mantanmu itu bagaimana tho? Cari cowok koq yang seperti itu, apa nggak ada yang lain? Kalau cari cowok tuh yang lebih bagusan daripada kamu. Jangan-jangan itu cuma gresek
** Gresek (bahasa jawa logat Semarang), artinya mencari sisa-sisa buangan di sepanjang jalan atau tempat sampah.

Menggoda Gairah

Minggu, 24 Mei 2009
Banyak cara dilakukan oleh pelaku usaha agar usahanya dikenal & selalu diingat oleh khalayak luas, salah satu caranya adalah dengan menggunakan nama yang unik bahkan cenderung aneh. Seperti halnya yang dilakukan oleh sebuah toko yang bergerak di usaha ponsel & Playstation di ruas jalan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta di dalam foto berikut ini.


SINTESIS: Sistem Informasi Akademik yang Melayani & Menghargai

Jumat, 10 April 2009
Perkembangan teknologi informasi yang pesat dewasa ini nampaknya berhasil diikuti dengan baik oleh Fakultas Ekonomika & Busines (FEB), Universitas Gadjah Mada. Beberapa tahun lalu mahasiswa masih harus datang langsung ke kampus untuk mengisi KRS (Kartu Rencana Studi), melihat nilai-nilai mata kuliah, melihat KHS (kartu Hasil Studi), mengecek perolehan IPK serta berbagai macam hal-hal lain yang berhubungan dengan administrasi akademis.

Kemudian sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dikembangkanlah Sistem Informasi Akademik (SIA), dimana melalui sebuah komputer mahasiswa bisa mengurus hal-hal yang berhubungan dengan administrasi akademis seperti yang sudah disebutkan di atas, Namun saat itu akses ke SIA hanya bisa dilakukan melalui komputer yang terhubung dengan komputer server FEB secara intranet. Dengan kata lain akses hanya bisa dilakukan melalui komputer yang ada di dalam kampus FEB-UGM. Koneksi melalui komputer yang berada di luar kampus FEB-UGM melalui jaringan internet masih belum dimungkinkan.

Namun sejak dua tahun belakangan ini FEB telah mengembangkan SIA baru yang dikenal dengan nama SINTESIS (Sistem Informasi Terpadu Fakultas Ekonomika & Busines). Sistem baru ini telah memungkinkan komputer yang berada diluar jaringan intranet FEB untuk mengakses SIA melalui internet. Keberadaan dari SINTESIS ini selain mempermudah civitas FEB-UGM dalam mengakses & mengelola administrasi akademis, sedikit banyak bisa jadi telah membuat FEB-UGM menuju sistem paperless office. Meskipun tidak mungkin bisa 100%.

Halaman login ke SINTESIS

SIA yang dapat diakses melalui website portal FEB-UGM di www.feb.ugm.ac.id atau langsung melalui http://academics.feb.ugm.ac.id ini diperuntukkan bagi seluruh civitas Fakultas Ekonomika & Busines, mulai dari dosen sampai dengan mahasiswa. Melalui SIA ini dosen dapat mengunggah materi perkuliahan untuk diunduh mahasiswa, bagian akademik juga dapat dengan mudah mengumumkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan akademik melalui SIA, mahasiswa dapat membereskan administrasi-administrasi dimanapun mereka berada asal terkoneksi dengan internet, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dilakukan menggunakan SIA.


Bercengkerama dengan SINTESIS.
Seiring dengan perkembangan, sejak pertengahan 2008 yang lalu SINTESIS juga telah merambah pelayanan melalui media layanan pesan singkat atau SMS. Apabila suatu ketika ada mata kuliah yang ditiadakan atau diganti pada hari lain, maka mahasiswa yang nomor ponselnya telah terdaftar ke server SINTESIS akan menerima SMS dengan format sebagai berikut:
"FEB-UGM: Kuliah (nama mata kuliah) hari (nama hari) (tanggal) (jam) (no. ruang) ditiadakan, dan akan diganti pada hari (nama hari) (tanggal) (jam) (no. ruang)"
Meskipun belum sempurna, karena terkadang ada pengumuman kuliah pengganti yang terlewat tidak diumumkan, namun Saya pribadi cukup menyukai layanan SMS broadcast ini. Karena sudah diumumkan melalui SMS saya tidak perlu kecele datang ke kampus karena tidak tahu bahwa kuliah yang akan Saya ikuti ditiadakan.

Awal semester ini juga menjadi pengalaman bercengkerama dengan SINTESIS yang saya rasa tidak akan mudah dilupakan. Pengalaman itu tidak lain adalah pengalaman entry KRS. Saat itu Saya sedang berada di rumah Saya di ibukota Jawa Tengah, Semarang, 160 km di sebelah utara kota Yogyakarta.

Tanpa harus repot-repot datang ke kampus, cukup dengan duduk di depan PC, entry KRS bisa saya selesaikan dengan baik. Sementara tangan kanan saya mengenggam mouse dan tangan kiri memegang ponsel, Saya melakukan koordinasi dengan sahabat-sahabat saya yang "berjuang" di lapangan.

Bak seorang pialang saham yang meneriakkan "jual" atau "beli", saya mengomando teman-teman untuk drop atau ambil mata kuliah tertentu dengan dosen favorit. Sambil mengomando Saya juga menerima informasi mengenai perkembangan mata kuliah yang ditawarkan, dosen yang mengajar & sisa kuota dari rekan-rekan yang lain melalui SMS, Yahoo! Messenger, dan Facebook. Informasi yang cepat sangatlah penting mengingat kami juga harus mengambil mata kuliah tertentu yang diajar oleh dosen favorit. Ini berarti bila terlambat menerima informasi bisa-bisa kami tidak kebagian kuota, dan harus mengambil mata kuliah yang sama yang tidak diampu oleh dosen favorit atau yang terparah harus mengambil mata kuliah tersebut semester depan.

Setelah 3 hari berturut-turut duduk di depan PC mulai dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore serta bertingkah bak seorang pialang saham yang sedang berada di lantai bursa, akhirnya entry KRS berhasil diselesaikan. Saya berhasil memperoleh semua mata kuliah plus dosen favorit yang saya inginkan di semester yang sedang saya jalani ini. Seandainya saja FEB-UGM tidak mengembangkan SINTESIS, Saya rasa Saya tidak akan merasakan pengalaman seperti di atas.

Kejutan dari SINTESIS
Saat Saya terbangun dari tidur pada hari ulang tahun saya 6 April lalu, saya lantas melihat ke ponsel saya untuk mengetahui pukul berapa saat itu. Ternyata pagi itu sudah masuk cukup banyak SMS ke ponsel saya, isinya apalagi kalau bukan mengucapkan selamat ulang tahun. Sebagian besar berasal dari sahabat-sahabat & keluarga Saya, namun saat semakin ke bawah saya baca SMS tersebut ada satu yang cukup mengejutkan. Ya saya menerima SMS dari FEB-UGM, mulanya Saya pikir adalah SMS tentang kuliah pengganti atau sejenisnya. Namun ternyata adalah SMS berisi ucapan selamat ulang tahun pada Saya.

"FEB-UGM:Hallo BENNY PUDJIASTANTO, kami dr FEB-UGM mngucapkan slamat ulang tahun, smoga sehat slalu dan cepat lulus :)"

Benar-benar hal yang tidak saya sangka karena tahun-tahun sebelumnya tidak sekalipun saya pernah menerima ucapan selamat ulang tahun dari FEB-UGM. Terlintas dalam pikiran saya bagaimana suasana di kantor akademik saat ada mahasiswa FEB-UGM yang berulang tahun ya? Dalam bayangan saya saat semua karyawan bagian akademik datang ke kantor tiba-tiba layar LCD memunculkan nama mahasiswa yang berulang tahun pada hari itu & sistem membunyikan sirene memberitahukan peristiwa tersebut. Kemudian sebagian besar karyawan menari-nari menggoyangkan badan serta tangannya ke depan dan ke belakang tanpa ekspresi bak sebuah iklan rokok di televisi, sementara itu salah seorang karyawan mengetik pesan singkat di atas dan mengirimkannya ke ponsel Saya.

Tentu saja yang terjadi tidak seheboh seperti yang saya bayangkan di atas, namun secara garis besar pasti ada sebuah sistem yang menyimpan database profil mahasiswa yang kemudian mencocokan tanggal hari & bulan kelahiran mahasiswa dengan tanggal hari & bulan saat itu. Dan apabila ada kecocokan secara otomatis memberitahukan bahwa hari itu ada mahasiswa yang berulang tahun kepada karyawan yang bertugas mengetik serta mengirimkan pesan singkat pada para mahasiswa.

Sebagian dari Anda mungkin berpikir "Ah cuma ucapan selamat ulang tahun begitu saja, nothing special", tapi dalam pandangan saya pribadi ini adalah suatu langkah kemajuan bagi FEB-UGM pada umumnya & SINTESIS pada khususnya. SINTESIS telah menjadi sistem yang tidak hanya melayani namun juga menghargai civitas FEB-UGM sebagai pengguna. Bila kita analogikan SINTESIS sebagai seorang pelayan restoran, Anda lebih suka pelayan yang seperti apa? Pelayan yang sekedar mencatat pesanan Anda serta mengantarkan tanpa ada sedikit pun interaksi (mungkin sekedar mengucapkan "selamat menikmati") dengan Anda, atau pelayan yang ramah yang berinteraksi dengan Anda dalam melaksanakan tugasnya mencatat pesanan Anda serta menyajikan ke hadapan Anda? Semua itu tergantung selera Anda, Saya pribadi lebih suka dengan tipe pelayan yang kedua terlebih lagi bila Saya adalah pelanggan tetap di restoran tersebut.