Kopi, minuman ini pasti sudah tidak asing lagi bagi Anda yang menggemarinya, tukang begadang, dan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir (seperti saya). Memang minuman yang satu ini mampu membuat kita terjaga semalaman suntuk karena kafein yang terkandung di dalamnya. Karena efek inilah konon kopi pernah dilarang oleh para imam konservatif dan orthodoks di majelis keagamaan di Makkah dan Mesir. Namun karena popularitasnya akhirnya larangan ini dicabut.
Kopi dalam bentuk tanaman atau biji pada awalnya tidak diizinkan keluar dari kawasan Arab namun karena harganya yang tinggi orang Belanda nekat menyelundupkannya keluar. Dan orang Belanda ini pulalah yang pertama kali membawa kopi untuk ditanam di pulau Jawa, Indonesia.
Indonesia sebagai negara penghasil kopi nomor empat terbesar di dunia memiliki dua jenis tanaman kopi yaitu kopi robusta (coffea robusta) dan kopi arabica (coffea arabica). Arabika merupakan kopi tradisional yang dianggap paling enak rasanya, sedangkan Robusta diposisikan sebagai barang substitusi dari Arabika karena harganya lebih murah dan dapat tumbuh pada lingkungan yang tidak dapat ditumbuhi oleh Arabika.Robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi daripada Arabika, selain itu rasanya yang pahit dan asam membuatnya tidak dapat dinikmati sendiri sehingga lebih banyak digunakan untuk campuran. Robusta yang berkualitas tinggi biasa digunakan dalam beberapa campuran espresso.
KOPI TERMAHAL ASLI INDONESIA
Di Indonesia ada suatu jenis Kopi Robusta dan Arabika yang harganya sangat mahal mencapai $300 (hampir Rp 3.000.000) per pound dalam bentuk serbuk dan $50 (lebih dari Rp 460.000 dengan kurs saat ini) per cangkir dalam bentuk minuman. Luar biasa...!!! Harganya yang selangit ini membuatnya dinobatkan sebagai kopi termahal oleh majalah Forbes. Jenis kopi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kopi Luwak.
Kopi ini berasal dari biji kopi Robusta atau Arabika yang dimakan oleh luwak, yang konon mempunyai kemampuan alami untuk mengenali biji kopi yang sudah matang. Kemudian biji kopi yang tidak tercerna oleh sistem pencernaan Luwak, ikut dibuang bersama kotoran Luwak. Biji kopi yang telah mengalami proses fermentasi di dalam saluran pencernaan Luwak itulah yang kemudian diolah menjadi kopi Luwak. Memang menjijikan, namun mengingat harganya yang selangit dan rasanya yang unik -rasanya kaya, berat dengan citarasa karamel atau coklat- saya yakin rasa jijik Anda akan lenyap.
MASIH ADA LAGI YANG LAIN
Selain Kopi Luwak, Indonesia masih memiliki beberapa jenis kopi lagi yang khas dan beberapa diantaranya juga mendapatkan predikat sebagai "yang ter-". Kopi-kopi tersebut rata-rata merupakan varietas dari Kopi Arabika. Yang pertama adalah Kopi Jawa (Java coffee), Jawa adalah nama yang diberikan kepada varietas kopi Arabika berdasarkan nama dermaga tempat kopi tersebut diekspor, apalagi kalau bukan pulau Jawa. Dan Jawa merupakan salah satu varietas tertua selain Mocha. Bahkan dari Kopi Jawa inilah saya berasumsi bahwa nama dan logo dari platform sistem operasi besutan Sun Microsystem, "Java", berasal.
Berikutnya dari pulau Sumatra ada Kopi Gayo yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Gayo sendiri merupakan nama suku asli Aceh. Kopi Gayo ditanam secara tumpangsari dengan tanaman Lamtoro yang akarnya baik untuk kesuburan tanah dan mencegah erosi sedangkan daunnya sangat cocok sebagai peneduh tanaman kopi. Perlu diketahui juga Kopi Gayo ini juga mendapat predikat "ter-" sebagai kopi organik terbaik di dunia, tak heran banyak daerah lain yang mencomot nama Kopi Gayo untuk merek dagang kopi asal daerahnya.
Dan terakhir dari daerah Sulawesi ada Kopi Toraja Kalosi. Nama ini diambil dari perpaduan kata Toraja yang merupakan dataran tinggi tempat tumbuhnya kopi ini dan Kalosi sebuah kota kecil di Sulawesi tempat pengumpulan kopi dari daerah di sekitarnya. Keunikan dari kopi ini adalah memiliki bijinya yang berwarna coklat tua dengan bentuk yang tidak teratur karena proses prooduksinya. Bentuk biji yang tidak teratur ini justru menambah kaya rasanya, selain itu kopi ini memiliki tingkat keasaman yang seimbang sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra.
Luar biasa bukan negara kita Indonesia ini. Selain rendang saya rasa kopi juga patut mendapat perhatian salah satu kekayaan kuliner Indonesia agar tidak ada negara lain yang mengklaim kopi khas Indonesia sebagai miliknya.









